Enter your keyword

Kepala UPT Perpustakaan ITB Menjadi Narasumber dalam Kegiatan Webinar: Leaders Talk 3: Pendidikan Tinggi di Era AI: Akselerasi Digitalisasi Pembelajaran yang Menuntut Peran Aktif Perpustakaan dan Pustakawan

Kepala UPT Perpustakaan ITB Menjadi Narasumber dalam Kegiatan Webinar: Leaders Talk 3: Pendidikan Tinggi di Era AI: Akselerasi Digitalisasi Pembelajaran yang Menuntut Peran Aktif Perpustakaan dan Pustakawan

Kepala UPT Perpustakaan ITB Menjadi Narasumber dalam Kegiatan Webinar: Leaders Talk 3: Pendidikan Tinggi di Era AI: Akselerasi Digitalisasi Pembelajaran yang Menuntut Peran Aktif Perpustakaan dan Pustakawan

BANDUNG.lib.itb.ac.id – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan tinggi. Menjawab tantangan tersebut, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia, Universitas Multimedia Nusantara, dan Lembaga Sertifikasi Profesi Pustakawan bekerja sama menggelar Leaders Talk3 Webinar bertajuk “Pendidikan Tinggi di Era AI: Akselerasi Digitalisasi Pembelajaran yang Menuntut Peran Aktif Perpustakaan dan Pustakawan”. Webinar diselenggarakan secara daring pada hari Selasa, 19 Mei 2026 pukul 10.00 s.d 11.30 WIB. Webinar ini menjadi ruang diskusi strategis bagi akademisi, pustakawan, dan pengelola perguruan tinggi dalam memahami transformasi pembelajaran digital sekaligus memperkuat peran perpustakaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI.

Dalam Webinar tersebut Kepala Perpustakaan ITB yang bertindak sebagai Ketua APPTI Jawa Barat menyajikan paparan bertema “Membangun Peran Kunci Perpustakaan dan Pustakawan dalam Pendidikan Tinggi di Era AI” yang menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan tinggi. Transformasi ini tidak hanya memengaruhi proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mengubah peran strategis perpustakaan dan pustakawan sebagai bagian penting dalam ekosistem akademik.

Dalam webinar tersebut dijelaskan bahwa hakikat pendidikan tinggi di era AI mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya perguruan tinggi berfokus pada transfer pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa, kini pendidikan diarahkan pada kemampuan kurasi dan validasi pengetahuan. Informasi yang melimpah akibat perkembangan teknologi menuntut sivitas akademika untuk mampu memilah informasi yang kredibel, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, kemampuan berpikir kritis (critical thinking) menjadi core learning outcome yang semakin penting. Mahasiswa tidak lagi cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menginterpretasikan informasi secara mendalam. Pembelajaran pun berkembang menjadi proses kolaborasi antara manusia dan AI, di mana teknologi dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kreativitas, analisis, dan produktivitas akademik.

Perubahan tersebut turut menempatkan perpustakaan dan pustakawan pada posisi yang semakin strategis. Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyedia informasi, melainkan berkembang menjadi curator pengetahuan yang membantu pengguna menemukan sumber informasi berkualitas di tengah derasnya arus data digital. Pustakawan juga didorong menjadi fasilitator literasi AI, yang membimbing sivitas akademika memahami penggunaan teknologi AI secara cerdas, etis, dan bertanggung jawab.

Dalam konteks akademik, perpustakaan juga memiliki peran penting sebagai penjaga integritas akademik. Penggunaan AI dalam penulisan karya ilmiah, pencarian referensi, maupun penyusunan tugas membutuhkan pengawasan dan edukasi agar tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran akademik serta menghindari praktik plagiarisme.

Narasumber juga menyoroti perubahan kebutuhan keterampilan atau core skills menuju tahun 2030. Jika saat ini keterampilan digital menjadi prioritas utama, maka di masa depan lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki profil hybrid skill yang mengombinasikan kemampuan teknologi dengan keterampilan manusiawi seperti cra berpikir strategis, empati, komunikasi, berpikir kreatif, dan kepemimpinan. Dengan demikian, lulusan tidak hanya mampu memanfaatkan AI, tetapi juga memiliki nilai-nilai humanis yang tidak dapat digantikan mesin.

Pembahasan mengenai perkembangan AI dalam pendidikan tinggi menunjukkan bahwa teknologi ini telah digunakan secara luas oleh mahasiswa maupun dosen, mulai dari pencarian informasi, penyusunan tugas, penerjemahan, hingga analisis data. Namun demikian, realitas penggunaan AI di perguruan tinggi juga memunculkan tantangan baru. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa mulai bergantung pada AI dalam proses berpikir dan penyelesaian tugas akademik.

Ketergantungan berlebihan terhadap AI dikhawatirkan dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemandirian belajar mahasiswa. AI yang digunakan sebagai pengganti proses berpikir manusia berpotensi menimbulkan konsekuensi serius terhadap kualitas pembelajaran dan integritas akademik.

Sebagai solusi, webinar ini menawarkan konsep kolaborasi pembelajaran manusia dan mesin melalui kerangka PACE. Pendekatan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan manusia dan pemanfaatan teknologi AI agar proses pembelajaran tetap berpusat pada pengembangan kapasitas intelektual dan karakter mahasiswa.

Sebagai penutup, narasumber merumuskan sejumlah langkah antisipatif dan rencana aksi konkret bagi perguruan tinggi, perpustakaan, dan pustakawan dalam menghadapi era AI. Beberapa langkah yang ditekankan di antaranya adalah audit kebijakan dan sinkronisasi, protocol AI use disclosure, inovasi desain dan asesmen, integrasi framework PACE, dan optimalisasi penjaminan kualitas

Melalui webinar ini, diharapkan perpustakaan dan pustakawan dapat semakin berperan aktif sebagai mitra strategis perguruan tinggi dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang inovatif, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan pendidikan tinggi di era kecerdasan buatan.

 

 

 

X